PENERAPAN METODE PEMBIASAAN PAI TERHADAP HASIL BELAJAR
PROPOSAL PENELITIAN
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Nilai Plagiarism Cheker sebagai syarat kelulusan Pelatihan ICT 2018
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Nilai Plagiarism Cheker sebagai syarat kelulusan Pelatihan ICT 2018
Oleh
NAMA LENGKAP
SABILA PRADITIA
SABILA PRADITIA
NIM.
1162020184
1162020184
KATA PENGANTAR
Pertama-tama puji syukur saya
haturkan kepada Allah Swt yang telah mempermudah saya dalam merampungkan
makalah ini. Shalawat serta salam saya limpah curahkan kepada junjunan alam
kita yakni Kanjeng Nabi Muhammad Saw, kepada keluarganya, para sahabat, para
tabi’in dan tabi’at dan juga semoga kepada kita semua selaku umatnya.
Kedua saya ucapkan
terimakasih kepada dosen pembimbing saya yang telah memberi arahan bagaimana
menyusun makalah ini. Juga kepada teman dekat saya yang selalu memberi semangat
dan pertolongan kepada saya sehingga makalah ini dapat di susun dengan tepat
waktu.
Terakhir saya ucapkan terimakasih juga kepada Ayahanda dan Ibunda
yang telah mendokan, mendorong dan mengayomi saya untuk kelancaran makalah yang
saya susun. Semoga mereka senantiasa berada dalam lindungan Allah Swt. Aamiin
DAFTAR ISI
BAB 1
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Anak merupakan
aset yang paling berharga bagi keluarga. Setiap orang tua tentu ingin anaknya
sukses dan berhasil dalam menjalani hidupnya. Maka, orang tua yang sadar akan
peran dan tanggung jawab terhadap anaknya akan mengusahakan segala sesuatu yang
terbaik untuk keberhasilan sang anak. Metode, cara, daya, upaya, semuanya
dikerahkan demi keberhasilan sang anak.
Hal yang tentunya sangat menyedihkan apabila anak tumbuh dan berkembang dengan
pergaulan yang buruk, pendidikan yang menyimpang, dan teman yang hina. Terlebih
yang paling mengecewakan adalah anak tidak berhasil dalam hidupnya.
Maka dari itu,
orang tua harus sadar dan faham betul pergaulan yang seperti apa, metode yang
seperti apa dan tentunya pengajaran yang seperti apa yang seharusnya diterima
sang anak dalam menjalani hidupnya. Dengan menggunakan metode pembiasaan
tentunya jalan hidup anak akan terarah dan teratur. Sehingga kehidupan yang
diharapkan orang tua akan tercapai dengan baik.
1.2
Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Metode Pembiasaan?
2. Bagaimana unsur-unsur Metode Pembiasaan?
3. Bagaimana cara penerapan Metode Pembiasaan agar mendapat hasil yang baik?
1. Apa yang dimaksud dengan Metode Pembiasaan?
2. Bagaimana unsur-unsur Metode Pembiasaan?
3. Bagaimana cara penerapan Metode Pembiasaan agar mendapat hasil yang baik?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui definisi Metode Pembiasaan
2. Memahami unsur-unsur Metode Pembiasaan
3. Dapat menerapkan Metode Pembiasaan kepada anak didik
1. Mengetahui definisi Metode Pembiasaan
2. Memahami unsur-unsur Metode Pembiasaan
3. Dapat menerapkan Metode Pembiasaan kepada anak didik
BAB II
Tinjauan Pustaka
Tinjauan Pustaka
Maksud
dari tinjauan pustaka ini adalah mengetahui dan menunjukan persamaan-persamaan
penelitian yang dilakukan oleh penulis dengan penelitian sebelumnya. Berikut
beberapa penelitian yang berkaitan dengan penelitian yang berkiatan dengan
penelitian yang akan penulis lakukan:
Pertama menurut Irma Dahlia2), R. Gunawan
Sudarmanto3), Pargito4) dalam Jurnalnya yang berjudul ” Optimalisasi pendidikan karakter dengan metode
pembiasaan MAN1”. Lembaga pendidikan MAN 1 Model Bandar Lampung yang menyelenggarakan pendidikan tafaqquh fiddunya
yang berorientasi pada penguasaan ”ilmu alat” yaitu ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK) yang penyelenggaraannya dilaksanakan secara terpadu dengan
tujuan untuk pencerdasan, pembudayaan, dan pemberadaban bangsa. Terikat dengan
hal tersebut, maka dalam rangka menghasilkan peserta didik yang unggul perlu
suatu upaya perbaikan kualitas pendidikan yaitu dengan mengupayakan adanya
pendidikan karakter yang terpadu dalam setiap proses pembelajaran. Model Bandar
Lampung sebagai lembaga pendidikan Islam, menjadi pusat pendidikan tafaqquh
fiddin yang berorientasi pada penguasaan
”ilmu hati” yaitu ilmu keagamaan tentang keimanan dan ketaqwaan kepada Allah
SWT (IMTAQ).[1]
Kedua menurut Tesis Eko Nopriadi yang berjudul “Penerapan
Metode Pembiasaan Untuk Menanamkan
Nilai-nilai Pendidikan Islam pada Siswa SD Negri 38 Janna-jannayya Kecamatan
Sinoa Kabupaten Bantaeng” Dari data
yang diperoleh dapat diketahui bahwa metode pembiasaan untuk menanamkan
nilai-nilai Pendidikan Islam pada peserta didik SD Negeri 38 Janna-jannaya kec.
Sinoa kab. Bantaeng sangat efektif dan mengalami peningkatan nilai nilai dasar
Pendidikan Islam karena metode yang dilakukan dengan pembiasaan sehari-hari
membudidayakan budaya antre, membuang sampah pada tempatnya, budaya salam sapa,
sampai beberapa bentuk nilai-nilai Pendidikan Islam yang ditanamkan kepada
peserta didik dengan menanamkan akhlak yang baik dengan sholat berjamaah (wajib
dan sunnah), hafal surah-surah pendek dan doa sehari-hari sampai memberikan
contoh teladan dari Rasulullah, sangat efektif dan berdampak positif kepada
peserta didik dan orangtua peserta didik yang sangat mendukung metode
pembiasaan dalam menanamkan nilai-nilai Islam pada siswa SD Negeri 38
Janna-jannaya kec. Sinoa kab. Bantaeng.[2]
Ketiga menurut Jurnal Widyaning Hapsari dan Itsnaiftayani yang berjudul “Model Pendidikan Karakter Pada
Anak Usia Dini Melalui Program Islamic Habituation”. Adapun tujuan dari
peneltian ini adalah mengetahui efektivitas program Islamic Habituation untuk
menanamkan karakter kedisiplinan pada siswa di TK Aisyah. Hasil dari penelitian
ini diharapkan dapat memberi manfaat antara lain yaitu memberi sumbangan
pemikiran bagi lembaga pendidikan pada umumnya dan bagi TK Aisyah pada
khususnya, memberikan alternatif strategi pengembangan lingkungan pembelajaran
yang ramah bagi anak sehingga anak dapat menunjukan kepatuhan dengan senang
hati.[3]
Ketiga
penelitian di atas sama-sama membahas dan mengembangkan metode pembiasaan
dengan cara mereka sendiri guna mencapai tujuan yang telah di tentukan.
Pembiasaan
1. Pengertian Metode Pembiasaan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), suatu
cara yang teratur yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan disebut metode;
atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna
mencapai tujuan yang ditentukan.
Dalam dunia pendidikan, metode dapat di
artikan sebagai cara mengajar seorang
guru untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran, proses pendidikan akan berjalan
dengan lancar apabila menggunakan metode pembelajaran yang tepat, sehingga
tujuan pendidikan yang efektif dan efisien tercapai dengan baik.[4]
Metode pembelajaran di pikirkan secara baik,
yang berguna untuk melatih anak agar memiliki beberapa kebiasaan tertentu dan
membuat pengalaman baru bagi anak, yang umumnya berhubungan dengan perkembangan
kepribadian anak seperti emosi, disiplin, budi pekerti, kemandirian,
penyesuaian diri, hidup bernasyarakat, danlain-lain. Menurut pendapat Mahmud
Yunus yang dikutip Armai Arief, Metode adalah “Mencapai tujuan tertentu dengan
menggunakan jalan yg hendak di tempuh oleh seseorang, baik dalam lingkungan
perusahaan, perniagaan, maupun dalam kusapan ilmu pengetahuan dan lainnya”
Secara
terminologis pembiasaan berasal dari “biasa”. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, “biasa” mempunyai arti: 1) lazim atau umum, 2) seperti sedia kala,
3) sudah merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Dengan adanya imbuhan “pe” dan “an” menunjukan sebuah proses. Sering kita
mendengar bahwa perilaku yang di lakukan secara terus-menerus akan menjadi
kebiasaan dan kebiasaan akan menjadi sebuah karakter.
Menurut Zainal Aqib pembiasaan ini merupakan
upaya yang dilakukan untuk mengembangkan perilaku anak yang dilakukan secara
berulang-ulang, yang meliputi perilaku keagamaan, sosial, emosional dan
kemandirian, betapa tidak karena pembiasaan ini bisa dilakukan dengan
lingkungan anak itu sendiri, seperti orang tua, guru, dan masyarakat. Orang tua
yang mengajarkan anaknya baik, pasti anaknya akan baik, sebaliknya jika mereka
mengajarkan keburukan, maka keburukanlah yang nampak pada anak
2. Dasar dan Tujuan pembiasaan
Pada dasarnya Al-Qur’an telah menggambarkan
metode pembiasaan melalui kebisaan yang dilakukan secara bertahap. Masa
kanak-kanak merupakan periode emas (golden age) untuk perkembangan
pengetaahuan anak. Sebuah periode dimana
anak mengetahui berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulus
bagi perkembangan kepribadian, psikomotor, kognitif maupun sosialnya. Sebuah
penelitian menyampaikan bahwa 50% kapabilitas kecerdasan orang dewasa telah
terjadi ketika anak berumur 4 tahun, 80% telah terjadi ketika umur 8 tahun,
anak mencapai kulminasi ketika umur 18 tahun. [5]
Keluarga merupakan sumber pembeajaran pertama
bagi anak. Sebagaiamana Syaikh Abu Hamid
Al Ghazali berkata tentang peran kedua orang tua :"Ketahuilah, bahwa anak
kecil merupakan amanat bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang masih suci
merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia akan
menerima setiap apa yang kita berikan kepdanya. Maka jika kita mengajarkan anak
tentang kebaikan, berbahagialah kita. Tetapi jika dibiasakan kejelekan dan
dibiarkan sebagaimana binatang ternak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa.”
Anak kecil belum memperoleh catatan tentang amal, maka
bila ia berbuat baik pahalanya akan mengalir kepada ibu/bapa dan gurunya, dan
apabila berbuat buruk, maka dosanya pun mengalir kepada mereka. Maka sudah
pastilah orang tua harus mendidik, membina dan mengasuh anak ke jalan yang baik,
orang tua dan guru harus mengawasi anak dari teman-teman jahat, tidak
membiasakannya bersenang-senang dan tidak pula menjadikannya suka kemewahan.
Dalam konteks Agama Islam pun, pembiasaan sudah di
laksanakan sejak puluhan abad tahun yang lalu, yang berguna untuk menanamkan nilai-nilai
ajaran Islam sehingga dapat terinternalisasikan dalam diri peserta didik, yang
akhirnya akan dapat membentuk karakter anak yang sesuai dengan nilai-nilai
ajaran islam. Sehingga menjadi perpaduan (sinergis) yang baik dalam membentuk
peserta didik yang berkualitas, dimana individu bukan hanya mengetahui
kebajikan, tetapi juga merasakan kebijakan dan mengerjakannya dengan didukung
oleh rasa cinta melakukannya.
Pembentukan karakter sebenarnya tidak bersifat alamiah, tetapi
harus di pupuk sedini mungkin dan di dorong dengan faktor-faktor luar yang
mempengaruhinya sehingga dapat berubah dan di bentuk sesuai dengan tujuan.
Zakiah Darajat berpendapat “Orang tua adalah pembina
pribadi yang utama dalam hidup anak, kepribadian orang tua, sikap dan cara
hidup mereka merupakan unsur-unsur pendidikan yang tidak berlangsung dengan
sendirinya akan masuk kedalam pribadi anak yang sedang tumbuh”. [6]
Seperti yang dikatakan Jhon Locke yang terkenal dengan
teori “Tabularasa” nya bahwa manusia lahir kedunia bagaikan kertas putih yang
masih bersih, mau hitam atau putih warnanya tergantung orang tua yang
mendidiknya. Pendidikan menurut Jhon Locke bersifat utilities yang didasarkan
atas dugaan. Locke juga berpendapat bahwa dengan pendidikan, anak memperoleh
berbagai banyak hal.
3. Bentuk-bentuk pembiasaan
Kebiasaan
yang dilakukan terus menerus dalam kehidupan sehingga menghasilkan kebiasaan
yang baik merupakan makna dari kebiasaan. Aspek yang berhubungan dengan
pembiasaan mencakup: aspek perkembangan moral dan nilai-nilai agama,
pengembangan sosio emosional dan kemandirian[7]. Dengan adanya
perkembangan nilai-nilai keagamaan. Di harapkan anak bisa beriman dan bertakwa
kepada Allah SWT. Adapun bentuk-bentuk pembiasaan pada anak dapat di laksanakan
dengan cara berikut:
a.
Kegiatan
rutin, kegiatan ini merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus,
baik di keluarga, sekolah dan masyarakat.
b.
Kegiatan
spontan, yaitu kegiatan yang secara sadar langsung dilakukan oleh seseorang
(spontan), seperti meminta pertolongan kepadaa orang lain, membantu yang
kesusahan dll.
c.
Pemberian
teladan, yaitu pengajaran dengan memberikan tauladan yang dapat di contoh,
seperti mengerjakan sholat, membuang sampah pada tempanya, dst
d.
Kegiatan
terprogram, yaitu kegiatan yang dilakukan secara tersusun dan sistematis,
seperti kegiatan sekolah
4.
Langkah-langkah
pelaksanaan pembiasaan
Pembinaan karakter harus terus menerus
dilakukan secara holistik dari semua lingkungan pendidikan yaitu keluarga,
sekolah, dan masyarakat. Menurut Miftahudin (2010) pembentukan dilakukan pada
usia dini sebagai pendidikan karakter, pengembangan terjadi pada masa remaja
sedangkan pemantapan terjadi pada waktu dewasa. Tugas-tugas pendidik adalah
menyediakan lingkungan belajar yang baik untuk membentuk, mengembangkan dan
memantapkan karakter peserta didiknya.[8]
Berikut syarat-syarat agar pembiasaan dapat
berjalan dengan baik, diantaranya sebagai berikut:
a.
Mulailah
pembiasaan itu sebelum terlambat, pembiasaan ini dilekukan sejak anak pada masa
pranatal (kehamilan) sebagai langkah awal pembentukan kebiasaan. Tetpai jika
terlambat, lakukanlah sesuai fase yang terjadi.
b.
Pembiasaan
hendaknya dilakukan secara berulang-ulang dan dijalankan secara teratur
sehingga akhirnya menjadi kebiasaan yang otomatis.
c.
Pendidikan
seharusnya bersikap tegas, teguh dan konsekuen, terhadap pendiriannya yang
telah di ambil. Jangan membiarkan anak melanggar aturan yang telah ditetapkan.
d.
Pembiasaan
yang mula-mula mekanistis harus bisa menjadi kebiasaan yang otomatis datang
dari hati anak sendiri.
Selain syarat di atas, ada pula upaya yang
harus kita perhatikan dalam menjalankan metode pembiasaan ini, diantaranya
sebagai berikut:
a.
Pelatihan
yang berguna memahamkan anak supaya anak bisa melakukan segala sesuatu sesuai
dengan apa yang telah di intruksikan
b.
Sebagai
orang dewasa tentunya kita harus mengawasi dan mengingatkan anak apabila mereka
lupa
c.
Berikan
apresiasi kepada anak agar mereka bahagia
d.
Jangan
pernah mencela anak, karna bisa membekas di dalam lubuk hatinya
2.1 Hasil belajar Siswa
1.
Pengertian
hasil belajar siswa
Hasil
belajar adalah hasil dari sebuah proses pembelajaran yang berupaya untuk
mengembangkan seluruh kepribadiannya, baik fisik maupun psikis merupakan
pengertian hasil belajar[9].
pembelajaran sejatinya bermaksud untuk mengembangkan fungsi-fungsi kognitif,
afektif dan psikomotorik siswa.[10]
Hasil tidak akan di dapat apabila tidak di awali dengan belajar,
belajar cara memanusiakan manusia yang
prosesnya didasarkan
dari perkembangan manusia yang dilakukan secara bertahap untuk melakukan perubahan-perubahan
dalam dirinya .
Definisi
lain mengatakan bahwa belajar pada manusia merupakan aktivitas individu yang
berproses menuju pada suatu perubahan dan terjadi melalui tahapan-tahapan
tertentu. Hasil belajar ini lebih menjurus
pada kemampuan siswa setelah menerima pengalaman belajar atau
hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri
individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar, penguasaan pengetahuan
atau materi yang dikembangkan oleh mata pelajaran, kemampuan tersebut mencakup
aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Kegiatan
evaluasi menjadi salah satu alternatif untuk melihat hasil belajar yang bertujuan
untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan tingkat kemampuan
peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Faktor lingkungan seperti
lingkungan keluarga dan sekolah dimana orang tua serta pendidik mempengaruhi
bagi kelancaran proses belajar pencapaian prestasi belajar peserta didik yang tidak
hanya dipengaruhi oleh kecerdasan peserta didik[11]
Muhibbin Syah menyatakan ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap
pembelajaran peserta didik dapat dibedakan menjadi tiga
macam secara global, yaitu faktor internal, faktor eksternal dan faktor
pendekatan belajar.
1)
Faktor
Internal Faktor internal mencakup kondisi jasmani dan rohani
seseorang. Faktor ini meliputi dua aspek, yakni:
a.
Aspek
fisiologis yang berpengaruh terhadap kekuatan
fisik anak. Gangguan yang di alami jasmani siswa sangat
mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan,
khususnya yang disajikan di kelas.
b.
Aspek
psikolois salah satu faktor rohani yang berada dalam tubuh
seseorang yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas perolehan
pembelajaran siswa. Diantaranya adalah tingkat intelegensi siswa, sikap siswa,
bakat siswa, minat siswa dan motivasi siswa.
2) Faktor Eksternal Faktor eksternal yakni
kondisi/keadaan lingkungan disekitar siswa. Adapun faktor eksteren yang dapat
mempengaruhi hasil belajar siswa adalah:
a.
Lingkungan
Sosial
b.
Lingkungan
Non Sosial
3) Faktor Pendekatan Belajar
Pencapaian hasil belajar tergantung pada
aktivitas peserta didik dalam belajar. Adanya metode dalam belajar sangatlah penting dalam pendidikan, karena dapat mempermudah pencapaian tujuan yang
diharapkan.
Menurut
Sumiati bahwa, “metode pembelajaran menekankan pada proses belajar peserta
didik secara aktif dalam upaya memperoleh kemampuan hasil belajar”. Keterampilan yang dimiliki anak,
kecerdasan serta minat dan bakat anak merupakan faktor keberhasilan
peserta didik mencapai hasil belajar yang baik.
BAB III
METODE
PENELITIAN
1.
Jenis dan
pendekatan penelitian
Peneliti menggunakan jenis penelitian (field research) yang bersifat kualitatif.
Penelitian ini menitik beratkan pada lingkup sosial (social
science) yang secara bergantung pada pengamatan manusia sebagai peneliti dalam kawasannya sendiri dan berkenaan dengan orang-orang tersebut
dalam bahasanya dan dalam peristilahannya.[12]
Penelitian yang kami teliti juga menggunakan
pendekatan pendekatan deskriptif. Dalam prosesnya, penelitian tidak hanya
sebatas pengumpulan dan penyusunan data saja, tetapi juga menganalisis serta
menginterpretasikan data. Secara fundamental dalam penelitian ini penulis akan
menggambarkan secara sistematis mengenai fenomena yang diselidiki.
2.
Penentuan
subyek
Subyek yang tentunya akan kita teliti berupa orang, respon, benda,
gerak dan proses sesuatu. Penulis memilih subyek dengan cara purposive
sampling yaitu dengan cara menyasar orang-orang terpilih lalu memberi pertanyaan
menurut ciri-ciri spesifik yang dimiliki subyek itu.
3.
Metode
pengumpulan data
Metode ini tentunya yang paling penting yang seharusnya ada dalam
sebuah penelitian. Untuk mendapatkan data yang relevan dalam penelitian ini
maka digunakan metode-metode sebagai berikut:
a.
Metode
observasi
Observasi yang akan kita lakukan tertuju kepada peserta didik
sebagai sasarannya (participant obcervation). Peneliti akan terlibat dan
bergelut dengan kegiatan sehari-hari dengan subyek yang diamati. Metode ini
digunakan untuk mendapatkan gambaran dan membuktikan data hasil wawancara
dengan realita terkait penerapan metode pembiasaan dalam meningkatkan hasil
belajar siswa.
b.
Metode
wawancara (interview)
Sebagai metode kedua yang peneliti pilih. Wawancara ini berbentuk
percakapan yang dilakukan oleh dua pihak, pewawancara (interviewer) yang
menunjukan pertanyaan dan yang di wawancarai (interview) yang memberikan
jawaban atas pertanyaan itu.
c.
Metode
Dokumentasi
Ketiga metode dokumentasi sebagai metode pengumpulan data yang digunakan
untuk mencari atau mengenal hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip
buku, surat kabar, majalah dll.
d.
Uji keabsahan
data
Peneliti menggunakan menggunakan teknik triangulasi data untuk
meneliti keabsahan data, yang dapat memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data
itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data.
e.
Metode analisis
data
Terakhir, peneliti menggunakan metode analisis data sebagai proses
mengorganisasikan atau mengurutkan data-data yang telah di dapatkan kedalam
pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat di temukan dan dirumuskan
hipotesis kerja seperti yang disarankan data
DAFTAR PUSTAKA
[1] O. Irma Dahlia
and R. Gunawan Sudarmanto, “OPTIMALISASI PENDIDIKAN KARAKTER DENGAN METODE
PEMBIASAAN 1).”
[2] “httprepositori.uin-alauddin.ac.id48121Eko%20Nopriadi.pdf.”
[3] U. M. Purwokerto, “Model Pendidikan
Karakter Pada Anak Usia Dini Melalui Program Islamic Habituation Widyaning
Hapsari, itsna iftayani,” 2016.
[4] H. N. Asriati, “Membangun Dan
Mengembangkan Pendidikan Nilai, Pembentukan Karakter, Dan Pembiasaan Sikap
Siswa Melalui Pembelajaran Afektif.”
[5] R. Baxter, N. Hastings, a. Law, and E. J. . Glass, “[ No Title ],” Anim.
Genet., vol. 39, no. 5, pp. 561–563, 2008.
[6] S. Kasus, T. Terpadu, A. C. Bandung, J.
Barat, and R. Sugiharto, “Pembentukan Nilai-nilai Karakter Islami Siswa Melalui
Metode Pembiasaan,” vol. 01, no. 01.
[7] U. Memenuhi, S. Satu, and S. Memperoleh,
“MEMBENTUK PERILAKU KEAGAMAAN SISWA DI MI MA ’ ARIF NU 1 KALIWANGI KECAMATAN
PURWOJATI KABUPATEN BANYUMAS JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH
DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN ) PURWOKERTO,” 2016.
[8] “HUBUNGAN HASIL BELAJAR ASPEK KOGNITIF
BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DENGAN AKHLAK SISWA KELAS V SD NEGERI
2 REJOSARI KECAMATAN BRANGSONG KABUPATEN KENDAL.”
[9] L. Hakim, “Nilai-nilai Islam, sikap dan
perilaku,SDIT Al-Muttaqin,” Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam Dalam
Pembentukan Sikap Dan Perilaku Siswa Sekol. Dasar Islam Terpadu Al-Muttaqin
Kota Tasikmalaya, vol. 10, no. 1, pp. 67–77, 2012.
[10] “httpswww.google.comurlsa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwj7qeiczKreAhXKwI8KHbgfAq4QFjADegQIBRAC&url=http%3A%2F%2Frepositori.uin-alauddin.ac.id%2F1471%2F1%2FHAIRUNNISAH.pdf&usg=AOvVaw3c5ByfQS2wHrkvNpKMoMSs.”
[11] M. Metode Pembiasaan, “INTERNALISASI
NILAI-NILAI AGAMA ISLAM.”
[12] “httpswww.google.comurlsa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=6&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwj7qeiczKreAhXKwI8KHbgfAq4QFjAFegQIABAC&url=http%3A%2F%2Fdigilib.uin-suka.ac.id%2F13551%2F2%2FBAB%2520I%252C%2520IV%252C%2520DAFTAR%2520PUSTAKA.pdf&usg=AOvVaw1V.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar