Kamis, 15 November 2018

Makalah Tugas ICT


PENERAPAN METODE PEMBIASAAN PAI TERHADAP HASIL BELAJAR
PROPOSAL PENELITIAN

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Nilai Plagiarism Cheker sebagai syarat kelulusan Pelatihan ICT 2018
Oleh
NAMA LENGKAP
SABILA PRADITIA
NIM.
1162020184


BANDUNG
05 NOVEMBER 2018/27 SAFAR 1440

KATA PENGANTAR
            Pertama-tama puji syukur saya haturkan kepada Allah Swt yang telah mempermudah saya dalam merampungkan makalah ini. Shalawat serta salam saya limpah curahkan kepada junjunan alam kita yakni Kanjeng Nabi Muhammad Saw, kepada keluarganya, para sahabat, para tabi’in dan tabi’at dan juga semoga kepada kita semua selaku umatnya.
            Kedua saya ucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing saya yang telah memberi arahan bagaimana menyusun makalah ini. Juga kepada teman dekat saya yang selalu memberi semangat dan pertolongan kepada saya sehingga makalah ini dapat di susun dengan tepat waktu.
Terakhir saya ucapkan terimakasih juga kepada Ayahanda dan Ibunda yang telah mendokan, mendorong dan mengayomi saya untuk kelancaran makalah yang saya susun. Semoga mereka senantiasa berada dalam lindungan Allah Swt. Aamiin


DAFTAR ISI














BAB 1
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Anak merupakan aset yang paling berharga bagi keluarga. Setiap orang tua tentu ingin anaknya sukses dan berhasil dalam menjalani hidupnya. Maka, orang tua yang sadar akan peran dan tanggung jawab terhadap anaknya akan mengusahakan segala sesuatu yang terbaik untuk keberhasilan sang anak. Metode, cara, daya, upaya, semuanya dikerahkan demi  keberhasilan sang anak. Hal yang tentunya sangat menyedihkan apabila anak tumbuh dan berkembang dengan pergaulan yang buruk, pendidikan yang menyimpang, dan teman yang hina. Terlebih yang paling mengecewakan adalah anak tidak berhasil dalam hidupnya.
Maka dari itu, orang tua harus sadar dan faham betul pergaulan yang seperti apa, metode yang seperti apa dan tentunya pengajaran yang seperti apa yang seharusnya diterima sang anak dalam menjalani hidupnya. Dengan menggunakan metode pembiasaan tentunya jalan hidup anak akan terarah dan teratur. Sehingga kehidupan yang diharapkan orang tua akan tercapai dengan baik.

1.2    Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Metode Pembiasaan?
2. Bagaimana unsur-unsur Metode Pembiasaan?
3. Bagaimana cara penerapan Metode Pembiasaan agar mendapat hasil yang baik?
1.3   Tujuan
1. Mengetahui definisi Metode Pembiasaan
2. Memahami unsur-unsur Metode Pembiasaan
3. Dapat menerapkan Metode Pembiasaan kepada anak didik




BAB II
Tinjauan Pustaka
            Maksud dari tinjauan pustaka ini adalah mengetahui dan menunjukan persamaan-persamaan penelitian yang dilakukan oleh penulis dengan penelitian sebelumnya. Berikut beberapa penelitian yang berkaitan dengan penelitian yang berkiatan dengan penelitian yang akan penulis lakukan:
Pertama menurut Irma Dahlia2), R. Gunawan Sudarmanto3), Pargito4) dalam Jurnalnya yang berjudul ” Optimalisasi pendidikan karakter dengan metode pembiasaan MAN1”. Lembaga pendidikan MAN 1 Model Bandar Lampung yang  menyelenggarakan pendidikan tafaqquh fiddunya yang berorientasi pada penguasaan ”ilmu alat” yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang penyelenggaraannya dilaksanakan secara terpadu dengan tujuan untuk pencerdasan, pembudayaan, dan pemberadaban bangsa. Terikat dengan hal tersebut, maka dalam rangka menghasilkan peserta didik yang unggul perlu suatu upaya perbaikan kualitas pendidikan yaitu dengan mengupayakan adanya pendidikan karakter yang terpadu dalam setiap proses pembelajaran. Model Bandar Lampung sebagai lembaga pendidikan Islam, menjadi pusat pendidikan tafaqquh fiddin  yang berorientasi pada penguasaan ”ilmu hati” yaitu ilmu keagamaan tentang keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT (IMTAQ).[1]
Kedua menurut Tesis Eko Nopriadi yang berjudul “Penerapan Metode Pembiasaan  Untuk Menanamkan Nilai-nilai Pendidikan Islam pada Siswa SD Negri 38 Janna-jannayya Kecamatan Sinoa Kabupaten Bantaeng”   Dari data yang diperoleh dapat diketahui bahwa metode pembiasaan untuk menanamkan nilai-nilai Pendidikan Islam pada peserta didik SD Negeri 38 Janna-jannaya kec. Sinoa kab. Bantaeng sangat efektif dan mengalami peningkatan nilai nilai dasar Pendidikan Islam karena metode yang dilakukan dengan pembiasaan sehari-hari membudidayakan budaya antre, membuang sampah pada tempatnya, budaya salam sapa, sampai beberapa bentuk nilai-nilai Pendidikan Islam yang ditanamkan kepada peserta didik dengan menanamkan akhlak yang baik dengan sholat berjamaah (wajib dan sunnah), hafal surah-surah pendek dan doa sehari-hari sampai memberikan contoh teladan dari Rasulullah, sangat efektif dan berdampak positif kepada peserta didik dan orangtua peserta didik yang sangat mendukung metode pembiasaan dalam menanamkan nilai-nilai Islam pada siswa SD Negeri 38 Janna-jannaya kec. Sinoa kab. Bantaeng.[2]
Ketiga menurut Jurnal Widyaning Hapsari dan Itsnaiftayani  yang berjudul “Model Pendidikan Karakter Pada Anak Usia Dini Melalui Program Islamic Habituation”. Adapun tujuan dari peneltian ini adalah mengetahui efektivitas program Islamic Habituation untuk menanamkan karakter kedisiplinan pada siswa di TK Aisyah. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat antara lain yaitu memberi sumbangan pemikiran bagi lembaga pendidikan pada umumnya dan bagi TK Aisyah pada khususnya, memberikan alternatif strategi pengembangan lingkungan pembelajaran yang ramah bagi anak sehingga anak dapat menunjukan kepatuhan dengan senang hati.[3]
            Ketiga penelitian di atas sama-sama membahas dan mengembangkan metode pembiasaan dengan cara mereka sendiri guna mencapai tujuan yang telah di tentukan.

Pembiasaan

1.      Pengertian Metode Pembiasaan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), suatu cara yang teratur yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan disebut metode; atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.
Dalam dunia pendidikan, metode dapat di artikan sebagai cara mengajar  seorang guru untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran, proses pendidikan akan berjalan dengan lancar apabila menggunakan metode pembelajaran yang tepat, sehingga tujuan pendidikan yang efektif dan efisien tercapai dengan baik.[4]
Metode pembelajaran di pikirkan secara baik, yang berguna untuk melatih anak agar memiliki beberapa kebiasaan tertentu dan membuat pengalaman baru bagi anak, yang umumnya berhubungan dengan perkembangan kepribadian anak seperti emosi, disiplin, budi pekerti, kemandirian, penyesuaian diri, hidup bernasyarakat, danlain-lain. Menurut pendapat Mahmud Yunus yang dikutip Armai Arief, Metode adalah “Mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan jalan yg hendak di tempuh oleh seseorang, baik dalam lingkungan perusahaan, perniagaan, maupun dalam kusapan ilmu pengetahuan dan lainnya”
            Secara terminologis pembiasaan berasal dari “biasa”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “biasa” mempunyai arti: 1) lazim atau umum, 2) seperti sedia kala, 3) sudah merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Dengan adanya imbuhan “pe” dan “an” menunjukan sebuah proses. Sering kita mendengar bahwa perilaku yang di lakukan secara terus-menerus akan menjadi kebiasaan dan kebiasaan akan menjadi sebuah karakter.
Menurut Zainal Aqib pembiasaan ini merupakan upaya yang dilakukan untuk mengembangkan perilaku anak yang dilakukan secara berulang-ulang, yang meliputi perilaku keagamaan, sosial, emosional dan kemandirian, betapa tidak karena pembiasaan ini bisa dilakukan dengan lingkungan anak itu sendiri, seperti orang tua, guru, dan masyarakat. Orang tua yang mengajarkan anaknya baik, pasti anaknya akan baik, sebaliknya jika mereka mengajarkan keburukan, maka keburukanlah yang nampak pada anak
2.      Dasar dan Tujuan pembiasaan
Pada dasarnya Al-Qur’an telah menggambarkan metode pembiasaan melalui kebisaan yang dilakukan secara bertahap. Masa kanak-kanak merupakan periode emas (golden age) untuk perkembangan pengetaahuan anak. Sebuah periode dimana  anak mengetahui berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulus bagi perkembangan kepribadian, psikomotor, kognitif maupun sosialnya. Sebuah penelitian menyampaikan bahwa 50% kapabilitas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berumur 4 tahun, 80% telah terjadi ketika umur 8 tahun, anak mencapai kulminasi ketika umur 18 tahun. [5]
Keluarga merupakan sumber pembeajaran pertama bagi anak. Sebagaiamana  Syaikh Abu Hamid Al Ghazali berkata tentang peran kedua orang tua :"Ketahuilah, bahwa anak kecil merupakan amanat bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia akan menerima setiap apa yang kita berikan kepdanya. Maka jika kita mengajarkan anak tentang kebaikan, berbahagialah kita. Tetapi jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagaimana binatang ternak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa.”
Anak kecil belum memperoleh catatan tentang amal, maka bila ia berbuat baik pahalanya akan mengalir kepada ibu/bapa dan gurunya, dan apabila berbuat buruk, maka dosanya pun mengalir kepada mereka. Maka sudah pastilah orang tua harus mendidik, membina dan mengasuh anak ke jalan yang baik, orang tua dan guru harus mengawasi anak dari teman-teman jahat, tidak membiasakannya bersenang-senang dan tidak pula menjadikannya suka kemewahan.
Dalam konteks Agama Islam pun, pembiasaan sudah di laksanakan sejak puluhan abad tahun yang lalu, yang berguna untuk menanamkan nilai-nilai ajaran Islam sehingga dapat terinternalisasikan dalam diri peserta didik, yang akhirnya akan dapat membentuk karakter anak yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran islam. Sehingga menjadi perpaduan (sinergis) yang baik dalam membentuk peserta didik yang berkualitas, dimana individu bukan hanya mengetahui kebajikan, tetapi juga merasakan kebijakan dan mengerjakannya dengan didukung oleh rasa cinta melakukannya.
Pembentukan karakter sebenarnya tidak bersifat alamiah, tetapi harus di pupuk sedini mungkin dan di dorong dengan faktor-faktor luar yang mempengaruhinya sehingga dapat berubah dan di bentuk sesuai dengan tujuan.
Zakiah Darajat berpendapat “Orang tua adalah pembina pribadi yang utama dalam hidup anak, kepribadian orang tua, sikap dan cara hidup mereka merupakan unsur-unsur pendidikan yang tidak berlangsung dengan sendirinya akan masuk kedalam pribadi anak yang sedang tumbuh”. [6]
Seperti yang dikatakan Jhon Locke yang terkenal dengan teori “Tabularasa” nya bahwa manusia lahir kedunia bagaikan kertas putih yang masih bersih, mau hitam atau putih warnanya tergantung orang tua yang mendidiknya. Pendidikan menurut Jhon Locke bersifat utilities yang didasarkan atas dugaan. Locke juga berpendapat bahwa dengan pendidikan, anak memperoleh berbagai banyak hal.
3.    Bentuk-bentuk pembiasaan
Kebiasaan yang dilakukan terus menerus dalam kehidupan sehingga menghasilkan kebiasaan yang baik merupakan makna dari kebiasaan. Aspek yang berhubungan dengan pembiasaan mencakup: aspek perkembangan moral dan nilai-nilai agama, pengembangan sosio emosional dan kemandirian[7]. Dengan adanya perkembangan nilai-nilai keagamaan. Di harapkan anak bisa beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Adapun bentuk-bentuk pembiasaan pada anak dapat di laksanakan dengan cara berikut:
a.       Kegiatan rutin, kegiatan ini merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus, baik di keluarga, sekolah dan masyarakat.
b.      Kegiatan spontan, yaitu kegiatan yang secara sadar langsung dilakukan oleh seseorang (spontan), seperti meminta pertolongan kepadaa orang lain, membantu yang kesusahan dll.
c.       Pemberian teladan, yaitu pengajaran dengan memberikan tauladan yang dapat di contoh, seperti mengerjakan sholat, membuang sampah pada tempanya, dst
d.      Kegiatan terprogram, yaitu kegiatan yang dilakukan secara tersusun dan sistematis, seperti kegiatan sekolah
4.      Langkah-langkah pelaksanaan pembiasaan

Pembinaan karakter harus terus menerus dilakukan secara holistik dari semua lingkungan pendidikan yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Menurut Miftahudin (2010) pembentukan dilakukan pada usia dini sebagai pendidikan karakter, pengembangan terjadi pada masa remaja sedangkan pemantapan terjadi pada waktu dewasa. Tugas-tugas pendidik adalah menyediakan lingkungan belajar yang baik untuk membentuk, mengembangkan dan memantapkan karakter peserta didiknya.[8]
Berikut syarat-syarat agar pembiasaan dapat berjalan dengan baik, diantaranya sebagai berikut:
a.       Mulailah pembiasaan itu sebelum terlambat, pembiasaan ini dilekukan sejak anak pada masa pranatal (kehamilan) sebagai langkah awal pembentukan kebiasaan. Tetpai jika terlambat, lakukanlah sesuai fase yang terjadi.
b.      Pembiasaan hendaknya dilakukan secara berulang-ulang dan dijalankan secara teratur sehingga akhirnya menjadi kebiasaan yang otomatis.
c.       Pendidikan seharusnya bersikap tegas, teguh dan konsekuen, terhadap pendiriannya yang telah di ambil. Jangan membiarkan anak melanggar aturan yang telah ditetapkan.
d.      Pembiasaan yang mula-mula mekanistis harus bisa menjadi kebiasaan yang otomatis datang dari hati anak sendiri.
Selain syarat di atas, ada pula upaya yang harus kita perhatikan dalam menjalankan metode pembiasaan ini, diantaranya sebagai berikut:
a.       Pelatihan yang berguna memahamkan anak supaya anak bisa melakukan segala sesuatu sesuai dengan apa yang telah di intruksikan
b.      Sebagai orang dewasa tentunya kita harus mengawasi dan mengingatkan anak apabila mereka lupa
c.       Berikan apresiasi kepada anak agar mereka bahagia
d.      Jangan pernah mencela anak, karna bisa membekas di dalam lubuk hatinya





2.1   Hasil belajar Siswa
1.      Pengertian hasil belajar siswa
Hasil belajar adalah hasil dari sebuah proses pembelajaran yang berupaya untuk mengembangkan seluruh kepribadiannya, baik fisik maupun psikis merupakan pengertian hasil belajar[9]. pembelajaran sejatinya bermaksud untuk mengembangkan fungsi-fungsi kognitif, afektif dan psikomotorik siswa.[10]
Hasil tidak akan di dapat apabila tidak di awali dengan belajar, belajar cara memanusiakan manusia yang prosesnya didasarkan dari perkembangan manusia yang dilakukan secara bertahap untuk melakukan perubahan-perubahan dalam dirinya .
Definisi lain mengatakan bahwa belajar pada manusia merupakan aktivitas individu yang berproses menuju pada suatu perubahan dan terjadi melalui tahapan-tahapan tertentu. Hasil belajar ini lebih menjurus pada kemampuan siswa setelah menerima pengalaman belajar atau hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar, penguasaan pengetahuan atau materi yang dikembangkan oleh mata pelajaran, kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Kegiatan evaluasi menjadi salah satu alternatif untuk melihat hasil belajar yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan tingkat kemampuan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Faktor lingkungan seperti lingkungan keluarga dan sekolah dimana orang tua serta pendidik mempengaruhi bagi kelancaran proses belajar pencapaian prestasi belajar peserta didik yang tidak hanya dipengaruhi oleh kecerdasan peserta didik[11]
Muhibbin Syah menyatakan ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pembelajaran peserta didik dapat dibedakan menjadi tiga macam secara global, yaitu faktor internal, faktor eksternal dan faktor pendekatan belajar.
1)         Faktor Internal Faktor internal mencakup kondisi jasmani dan rohani seseorang. Faktor ini meliputi dua aspek, yakni:
a.       Aspek fisiologis yang berpengaruh terhadap kekuatan fisik anak. Gangguan yang di alami jasmani siswa sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan, khususnya yang disajikan di kelas.
b.      Aspek psikolois salah satu faktor rohani yang berada dalam tubuh seseorang yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas perolehan pembelajaran siswa. Diantaranya adalah tingkat intelegensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa dan motivasi siswa.
2) Faktor Eksternal Faktor eksternal yakni kondisi/keadaan lingkungan disekitar siswa. Adapun faktor eksteren yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa adalah:
a.       Lingkungan Sosial
b.      Lingkungan Non Sosial

3) Faktor Pendekatan Belajar
Pencapaian hasil belajar tergantung pada aktivitas peserta didik dalam belajar. Adanya metode dalam belajar sangatlah penting dalam pendidikan, karena  dapat mempermudah pencapaian tujuan yang diharapkan. 
Menurut Sumiati bahwa, “metode pembelajaran menekankan pada proses belajar peserta didik secara aktif dalam upaya memperoleh kemampuan hasil belajar”.  Keterampilan yang dimiliki anak, kecerdasan serta minat dan bakat anak merupakan faktor keberhasilan peserta didik mencapai hasil belajar yang baik.










BAB III
METODE PENELITIAN
1.      Jenis dan pendekatan penelitian
Peneliti menggunakan jenis penelitian  (field research) yang bersifat kualitatif. Penelitian ini menitik beratkan pada lingkup sosial (social science) yang secara bergantung pada pengamatan manusia sebagai peneliti dalam kawasannya sendiri dan berkenaan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya.[12]
Penelitian yang kami teliti juga menggunakan pendekatan pendekatan deskriptif. Dalam prosesnya, penelitian tidak hanya sebatas pengumpulan dan penyusunan data saja, tetapi juga menganalisis serta menginterpretasikan data. Secara fundamental dalam penelitian ini penulis akan menggambarkan secara sistematis mengenai fenomena yang diselidiki.
2.      Penentuan subyek
Subyek yang tentunya akan kita teliti berupa orang, respon, benda, gerak dan proses sesuatu. Penulis memilih subyek dengan cara purposive sampling yaitu dengan cara menyasar orang-orang terpilih lalu memberi pertanyaan menurut ciri-ciri spesifik yang dimiliki subyek itu.
3.      Metode pengumpulan data
Metode ini tentunya yang paling penting yang seharusnya ada dalam sebuah penelitian. Untuk mendapatkan data yang relevan dalam penelitian ini maka digunakan metode-metode sebagai berikut:
a.       Metode observasi
Observasi yang akan kita lakukan tertuju kepada peserta didik sebagai sasarannya (participant obcervation). Peneliti akan terlibat dan bergelut dengan kegiatan sehari-hari dengan subyek yang diamati. Metode ini digunakan untuk mendapatkan gambaran dan membuktikan data hasil wawancara dengan realita terkait penerapan metode pembiasaan dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

b.      Metode wawancara (interview)
Sebagai metode kedua yang peneliti pilih. Wawancara ini berbentuk percakapan yang dilakukan oleh dua pihak, pewawancara (interviewer) yang menunjukan pertanyaan dan yang di wawancarai (interview) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
c.       Metode Dokumentasi
Ketiga metode dokumentasi sebagai metode pengumpulan data yang digunakan untuk mencari atau mengenal hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip buku, surat kabar, majalah dll.
d.      Uji keabsahan data
Peneliti menggunakan menggunakan teknik triangulasi data untuk meneliti keabsahan data, yang dapat memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data.
e.       Metode analisis data
Terakhir, peneliti menggunakan metode analisis data sebagai proses mengorganisasikan atau mengurutkan data-data yang telah di dapatkan kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat di temukan dan dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan data












DAFTAR PUSTAKA

[1]      O. Irma Dahlia and R. Gunawan Sudarmanto, “OPTIMALISASI PENDIDIKAN KARAKTER DENGAN METODE PEMBIASAAN 1).”
[2]      “httprepositori.uin-alauddin.ac.id48121Eko%20Nopriadi.pdf.”
[3]      U. M. Purwokerto, “Model Pendidikan Karakter Pada Anak Usia Dini Melalui Program Islamic Habituation Widyaning Hapsari, itsna iftayani,” 2016.
[4]      H. N. Asriati, “Membangun Dan Mengembangkan Pendidikan Nilai, Pembentukan Karakter, Dan Pembiasaan Sikap Siswa Melalui Pembelajaran Afektif.”
[5]      R. Baxter, N. Hastings,  a. Law, and E. J. . Glass, “[ No Title ],” Anim. Genet., vol. 39, no. 5, pp. 561–563, 2008.
[6]      S. Kasus, T. Terpadu, A. C. Bandung, J. Barat, and R. Sugiharto, “Pembentukan Nilai-nilai Karakter Islami Siswa Melalui Metode Pembiasaan,” vol. 01, no. 01.
[7]      U. Memenuhi, S. Satu, and S. Memperoleh, “MEMBENTUK PERILAKU KEAGAMAAN SISWA DI MI MA ’ ARIF NU 1 KALIWANGI KECAMATAN PURWOJATI KABUPATEN BANYUMAS JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN ) PURWOKERTO,” 2016.
[8]      “HUBUNGAN HASIL BELAJAR ASPEK KOGNITIF BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DENGAN AKHLAK SISWA KELAS V SD NEGERI 2 REJOSARI KECAMATAN BRANGSONG KABUPATEN KENDAL.”
[9]      L. Hakim, “Nilai-nilai Islam, sikap dan perilaku,SDIT Al-Muttaqin,” Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam Dalam Pembentukan Sikap Dan Perilaku Siswa Sekol. Dasar Islam Terpadu Al-Muttaqin Kota Tasikmalaya, vol. 10, no. 1, pp. 67–77, 2012.
[10] “httpswww.google.comurlsa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwj7qeiczKreAhXKwI8KHbgfAq4QFjADegQIBRAC&url=http%3A%2F%2Frepositori.uin-alauddin.ac.id%2F1471%2F1%2FHAIRUNNISAH.pdf&usg=AOvVaw3c5ByfQS2wHrkvNpKMoMSs.”
[11]    M. Metode Pembiasaan, “INTERNALISASI NILAI-NILAI AGAMA ISLAM.”
[12] “httpswww.google.comurlsa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=6&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwj7qeiczKreAhXKwI8KHbgfAq4QFjAFegQIABAC&url=http%3A%2F%2Fdigilib.uin-suka.ac.id%2F13551%2F2%2FBAB%2520I%252C%2520IV%252C%2520DAFTAR%2520PUSTAKA.pdf&usg=AOvVaw1V.”